BISBIS ONLINE PALING MENGUTUNGKAN DENGAN MODAL MURAH

gigtisue reguler referral5referral2referral10referral100 gigtisue regulerJika anda berminat hubungi: 085382401825(usep)

My Blog

Paket Reguler

KETENTUAN UMUM :

  1. Untuk tarif iklan tampak didepan dan dibelakang tissue dengan kemasan ukuran 10,5 X 18 cm adalah sebesar Rp.0,2,-/pcs tissue.
  2. Minimal kuantiti pemasangan iklan adalah 5.000.000 pcs tissue (sebesar Rp.1.000.000,-).
  3. Untuk non referral tidak ada batasan waktu.
  4. Untuk referral 2 customer / mitra dengan batasan waktu 1 hari.
  5. Untuk referral 5 customer / mitra dengan batasan waktu 5 hari.
  6. Untuk referral 10 customer / mitra dengan batasan waktu 7 hari.
  7. Untuk referral 100 customer / mitra dengan batasan waktu 14 hari.
  8. Materi iklan dari customer / mitra yang akan memasang iklan tersebut dikirimkan dalam

bentuk disk atau flashdisk atau diemail ke : rio.adria@gigtissue.com.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KETENTUAN :

  1. Perusahaan akan menjamin Break Even Point (BEP) – pemberian komisi kepada customer / mitra yang memasang iklan di produk tissue dalam waktu 10 hari sejak tissue…

Lihat pos aslinya 318 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

BISBIS ONLINE PALING MENGUTUNGKAN DENGAN MODAL MURAH

gig1 gigtisue reguler gigtisue regulergigtisue regulergigtisue regulergigtisue regulerPaket Reguler

KETENTUAN UMUM :

  1. Untuk tarif iklan tampak didepan dan dibelakang tissue dengan kemasan ukuran 10,5 X 18 cm adalah sebesar Rp.0,2,-/pcs tissue.
  2. Minimal kuantiti pemasangan iklan adalah 5.000.000 pcs tissue (sebesar Rp.1.000.000,-).
  3. Untuk non referral tidak ada batasan waktu.
  4. Untuk referral 2 customer / mitra dengan batasan waktu 1 hari.
  5. Untuk referral 5 customer / mitra dengan batasan waktu 5 hari.
  6. Untuk referral 10 customer / mitra dengan batasan waktu 7 hari.
  7. Untuk referral 100 customer / mitra dengan batasan waktu 14 hari.
  8. Materi iklan dari customer / mitra yang akan memasang iklan tersebut dikirimkan dalam

bentuk disk atau flashdisk atau diemail ke : rio.adria@gigtissue.com.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KETENTUAN :

  1. Perusahaan akan menjamin Break Even Point (BEP) – pemberian komisi kepada customer / mitra yang memasang iklan di produk tissue dalam waktu 10 hari sejak tissue mulai dijual / didistribusikan oleh tenaga sales perusahaan.
  2. Lewat waktu tersebut customer telah menikmati keuntungan dari pemasangan iklan dan investasinya tetapi perusahaan tetap akan memberikan komisi dari setiap penjualannya.
  3. Perusahaan akan mengembalikan 100% biaya pemasangan iklan apabila perusahaan tidak menepati pembayaran komisi untuk menutup BEP dalam waktu 10 hari tersebut.
  4. Untuk profit from sales dan profit from referral akan diberikan/dikirim dananya melalui transfer kerekening bank perhari dari hasil penjualan tissue.
  5. Sejak customer / mitra membayar pemasangan iklan, maksimal 5 (lima) hari design telah harus diterima oleh perusahaan.
  6. Selanjutnya 5 (lima) hari lagi proses untuk approval dari customer dan perusahaan.
  7. Setelah approval tersebut ada 41 (empat puluh satu) hari untuk proses produksi tissue.
  8. Apabila dari batasan waktu yang diberikan perusahaan (5 hari, customer / mitra tidak menyerahkan design-nya, maka perusahaan akan memakai design sendiri sesuai aturan perusahaan.

PENJUALAN TISSUE :

  1. Produk tissue yang telah tercantum iklan customer / mitra akan didistribusikan oleh perusahaan sesuai pemetaan dan segmen pasar yang dituju misalnya di mal, perkantoran, kampus, rumah makan, tempat rekreasi, dll melalui stokist dan distributor.
  2. Perusahaan akan memberikan laporan bahwa produk telah dijual sesuai pemetaan dan segmen yang dituju melalui web mail (lokasi, jumlah tissue, waktu, tanggal).

 

PEMBAYARAN IKLAN :

  1. Pembayaran pemasangan iklan adalah 100% kepada perusahaan dengan tunai atau transfer bank.
  2. Pembayaran transfer dapat dikirim ke rekening Bank BRI Cabang Kemayoran Jakarta atas nama PT.Bintara Eximindo A/C : 0356-01-000634-30-3.

 

KONTAK PEMASANGAN IKLAN :

  1. Dapat menghubungi Marketing perusahaan yang telah dilengkapi dengan Surat Tugas.
  2. Dapat menghubungi nomor telepon 021-89616616 / 021-98616616 pada hari dan jam kerja yaitu Senin s/d Jumat pukul 09.00 WIB – 17.00 WIB dan hari Sabtu pukul 09.00 WIB – 13.00 WIB.
  3. Dapat menghubungi melalui email : marketing@gigtissue.com.-CP; 085382401825(usep)

  HOT NEWS

Artis seksi Nana Khairina siap mengajak Anda jadi Jutawan lewat tisu. Kok bisa?

Launching GiGTISSUE di Blitz Megaplex MOI Kelapa Gading yang dihadiri lebih dari 250 orang.

  Berita Lainnya

  • GIGTISSUE Tawarkan Keuntungan.

Koran Harian Terbit, Kamis 05 Maret 2015

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

CARA TERBAIK MENGATASI BERBAGAI PENYAKIT

abm_7_seriesMiracle Herbs Spray

Manfaat :

  • mengatasi kulit berminyak
  • memelihara kelembaban kulit
  • mengecilkan pori kulit
  • mencerahkan kulit kusam
  • mengurangi flek hitam
  • membantu mengatasi masalah jerawat
  • membantu mengurangi peradangan kulit
  • mengatasi keputihan

Komposisi :

  • Fermentasi air pegagan, air mawar, air kenanga, probiotik

Cara Penggunaan :

  • Cuci muka pagi dan malam hari, Semprotkan MHS secara merata diamkan 15 sampai 30 menit, kemudian cuci muka anda

Cara Penyimpanan :

  • Simpan di tempat yang sejuk, hindari sinar matahari langsung atau temperatur tinggi
HARGA :

Rp 100.000,-

Pemesanan Hub: 085382401825(tambah biaya kirim)

ABM 7 Series

ABM 7 Series berfungsi untuk : Meningkatkan Metabolisme, Imunitas dan Stamina Tubuh, Memperbaiki pencernaan, Menetralisir racun, Menghambat dan mencegah anker serta meregenerasi organ, Memperbaiki kualitas darah.

Kandungan Mikroba pada ABM 7 Series sangat baik bagi kesehatan tubuh kita, karena ABM 7 Series mampu sebagai :

  • Cleansing yaitu membersihkan racun, zat toksin yang masuk kedalam tubuh melalui makanan dan minuman.
  • Balancing yaitu bisa menyeimbangkan kecukupan asupan gizi supaya organ tubuh dapat berfungsi dengan baik.
  • Protecting yaitu mampu memberikan efek perlindungan (imunitas) dari serangan penyakit.
  • Diet yaitu membakar lemak yang mampu memperbaiki metabolisme serta menurunkan kadar kolesterol darah dan lemak tak jenuh dibawah kulit.

Manfaat ABM 7 Series :

  • Membersihkan dan meremajakan fungsi saluran pencernaan
  • Membuang racun, membersihkan seluruh darah
  • Mengontrol kolesterol dan kadar gula dalam tubuh
  • Meningkatkan fungsi serta mencegah penyakit pada hati & organ dalam lainnya
  • Mencegah Alergi
  • Mencegah infeksi dalam dan luar tubuh
  • Mencegah peradangan dalam dan luar tubuh
  • Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit
  • Mendorong fungsi penyerapan gizi dan vitamin, serta mengontrol berat badan
  • Mengoptimalkan fungsi obat, terutama obat terbal
  • Memperbaiki metabolisme.

Komposisi ABM 7 Series antara lain :

1.    Agaric (jamur Dewa / Agaricus Blazei Murill)

Dapat digunakan untuk obat diabet, Hipertensi, dan Kanker. Mengandung senyawa B. glukan, Ergosterol dan Terpenold senyawa yang berpotensi sebagai anti Kanker. Jamur Dewa mempunyai kemampuan sebagai anti kanker sel kanker seviks yaitu menghambat pembelahan sel dengan hasil sel kanker lebih berkurang dan tidak berkembang, Agaric mampu menghambat dan melawan kanker. (Penelitian dilakukan oleh MISGIATI, A.S.Pd di Laboratorium Fisiologi Molekular Fakultas Kedokteran universitas BRAWIJAYA Malang).

2.    Ekstrak Sarang Semut

Sarang semut mengandung Flavonoid, Tannin, dan Polifenol (Dr. Ir. M. Ahkam Subroto M.App.Sc – Peneliti LIPPI) : manfaat Flavonoid antarra lain melindungi struktur sel, meningkatkan efektivitas vitamin C, antiinflamasi, mencegah keropos tulang, antibiotik, antivirus, antikanker dan menghamban proliferasi sel-sel kanker. selain itu, Flavonoid berperan dalam pencegahan dan pengobatan beberapa penyakit lain seperti ashma, katarak, diabetes, encok/rematik, migren, wasir, dan priodontis.

Sarang semut mengandung Tokoferol (miril vitamin E) yang berefek sebagai antioksidan efektif (Prof Dr. Elin Yulinah Sukandar, Guru besar Farmasi ITB).

Tokoferol sangat baik mengatasi lemak dan radikal bebas (Ahmad Sulaeman PhD, Ahli Nutrisi Alumnus Universitas Nebraska Lincoln).

3.    Manggis

Khasiat Manggis bukan hanya antioksidan, tetapi juga anti kanker. Ekstrak kulit manggis bersifat anti proliferasi yang untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. selain itu juga bersifat apoptosis penghancur sel kanker. Manggis mampu membantu preventive dan membantu penyembuhan beberapa jenis penyakit kanker seperti (TBC), ashma, leukimia, antiinflamasi dan antidiare.

kandungan didalam Manggis sangat berperan menakhlukan penyakit antara lain :Memperkuat sistem imun, regenerasi sel, menurunkan kadar gula darah, Kanker & Tumor, penurun darah tinggi, asam urat.

4.    Probiotik

Dari hasil penelitian manfaat probiotik :

  • Mencegah terjadinya kanker yaitu dengan menghilangkan bahan prokarsinogen (bahan penyebab kanker) dari tubuh dan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh.
  • Menghasilkan bahan aktif anti tumor.
  • Menghasilkan berbagai vitamin, Thiamin (B1), Ribofin (B2), Piridoksin (B6), Asam Float, Sianokabalamin (B12) yang mudah diserap tubuh.
  • Memproduksi asam laktat dan asam asetat di usus yang menekan pertumbuhan bakteri E coli dan C. perfringens penyebab radang usus & menekan bakteri pat lain, serta mengurangi penyerapan amonia dan amina.
  • Menghasilkan niasin yang berperan dalam penurunan kadar kolesterol.

Baik untuk terapi penyakit degeneratif, antara lain :

Kanker, Tumor, Diabetes / Kencing Manis, Kolesterol, Asam Urat, rematik, Wasir / Ambeien, Sulit BAB, Lembah Jantung (mulai dosis kecil), Jantung Koroner, Sesak nafas / Alegri, Liver, Diare, Stroke Kista, Typus, Paru-paru basah, Penyakit Paru-paru, Maag / Lambung, Menormalkan darah tinggi dan darah rendah, Sistem Reproduksi dan lain-lain dengan cara menormalkan sistem metabolisme dan pencernaan dan juga memperbaiki kualitas darah menjadi lebih baik.

Aturan Pakai :

  1. Untuk penyembuhan minumlah secara rutin 3x sehari 2 sendok makan (20 ml) dicampur dengan air 200ml sebelum makan yaitu pagi, siang, dan malam menjelang tidur. untuk orang yang sakit maag diminum setelah makan (untuk pencegahan 2x sehari) untuk penyakit kronis dosis ditingkatkan sesuai kondisi tubuh.
  2. Beri selisih 2 jam jika sedang minum obat dari dokter, makan ABM 7 Series akan mempercepat proses kerja obat tersebut.
  3. Untuk menjaga kesehatan keluarga campurkan 20ml ABM 7 Series ke dalam galon air, yang bermanfaat untuk : Menetralisir racun dalam air, Membunuh bakteri patogen dan memberikan imunitas kepada anggota keluarga.
  4. Setelah minum ABM 7 Series harus minum air putih yang banyak untuk mengeluarkan penyakit melalui urine dan keringat (detoxifikasi).
  5. Menormalkan “BAB” Buang air besar, tiap hari bagian dari proses detoksifikasi (pengeluaran racun dalam tubuh).
  6. Terapi minum ABM 7 Series secara rutin 2 bulan, setelah itu boleh tidak minum. Minum kembali bila dipandang perlu / sesuai kebutuhan, kecuali bagi konsumen yang memerlukan perawatan khusus (penyakit degeneratif kronis).
  7. Setelam minum ABM 7 Series pastikan bahwa anda tidak makan dan minum sesuatu yang mengandung zat pengawet tinggi.

Reaksi Positif untuk sebagian orang setelah minum ABM 7 Series :

  1. Perut terasa perih berarti reaksi bagus, (ada gejala maag) teruskan dan jangan dihentikan, minum Formula Hayati Premium selanjutnya harus dicampur dengan gula pasir atau madu asli (1 gelas air putih + 1 sendok gula / madu asli + 2 sendok makan ABM 7 Series).
  2. BAB, Keringat, Urine, akan bertambah banyak dan sering. bagian dari proses detoksifikasi, untuk sebagian orang BAB akan encer.
  3. Untuk sebagian orang jika terjadi reaksi tambah sakit pada penyakitnya (tambah gatal, tambah batuk, pusing) maka itu reaksi bagus untuk mengeluarkan racun dalam tubuh, jhentikan tetap diteruskan minum ABM 7 Series maka reaksi akan berangsur-angsur hilang dan badan kembali lebih bugar.

Perhatian

Endapan / butiran putih yang mengapung dalam ABM 7 Series bukan kotoran dan jangan dibuang, tapi SCOBY (Simbiotic Culture of Bacteria and Yeast) perpaduan antara Prebiotik dan Probiotik yang terjadi antara beberapa mikro organisme yang bermanfaat buat kesehatan, bisa dikonsumsi.

SIMPAN DI TEMPAT YANG SEJUK, HINDARI AIR PANAS, KOCOK DULU SEBELUMDIMINUM.

DINKES P.IRT No. 205332202320

HARGA :Rp. 200.000,-

Pemesanan Hub: 085382401825(tambah biaya kirim)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Strategi Pembelajaran

Oleh : Usep Saepudin
Dalam dunia pendidikan strategi diartikan sebagai a plan, method, or sries of activities designed to achieves a particular educational goal (J.R David, 1076). Jadi dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang serangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan oleh dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan itu, dick dan carrey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang diguanakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.

Dari konsep-konsep di atas maka jelas menentukan strategi pembelajaran pada hakekatnya adalah menyusun pengalaman belajar siswa.

Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima strategi pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran inkuiri (inquiry).

Di bawah ini akan diuraikan secara singkat dari masing-masing strategi pembelajaran tersebut.
1. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar.

Dengan mengutip pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) mengemukakan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu :
1. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik
2. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus)
3. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a) menyusun konsep sementara; (b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain; dan (c) merevisi dan mengembangkan konsep.
4. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
5. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.
6.
2. Bermain Peran (Role Playing)
Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.
Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian
Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah.

Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel, E. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi : (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik; (2) memilih peran; (3) menyusun tahap-tahap peran; (4) menyiapkan pengamat; (5) menyiapkan pengamat; (6) tahap pemeranan; (7) diskusi dan evaluasi tahap diskusi dan evaluasi tahap I ; (8) pemeranan ulang; dan (9) diskusi dan evaluasi tahap II; dan (10) membagi pengalaman dan pengambilan keputusan.

3. Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)
Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Dengan meminjam pemikiran Knowles, (E.Mulyasa,2003) menyebutkan indikator pembelajaran partsipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik; (2) adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan; (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.

Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut:
1. Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.
2. Membantu peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan
3. Membantu peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.
4. Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar.
5. Membantu peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.
6. Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.
7. Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.

4. Belajar Tuntas (Mastery Learning)
Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya. Evaluasi yang dilaksanakan setelah para peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan dasar untuk memperoleh balikan (feedback). Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan oleh peserta didik. Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan dimana dan dalam hal apa para peserta didik perlu memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan, sehinga seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan ,dan menguasai bahan belajar secara maksimal (belajar tuntas).

Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas dalam hal berikut : (1) pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test); (2) peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan; dan (3) pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif).

Strategi belajar tuntas dikembangkan oleh Bloom, meliputi tiga bagian, yaitu: (1) mengidentifikasi pra-kondisi; (2) mengembangkan prosedur operasional dan hasil belajar; dan (3c) implementasi dalam pembelajaran klasikal dengan memberikan “bumbu” untuk menyesuaikan dengan kemampuan individual, yang meliputi : (1) corrective technique yaitu semacam pengajaran remedial, yang dilakukan memberikan pengajaran terhadap tujuan yang gagal dicapai peserta didik, dengan prosedur dan metode yang berbeda dari sebelumnya; dan (2) memberikan tambahan waktu kepada peserta didik yang membutuhkan (sebelum menguasai bahan secara tuntas).

Di samping implementasi dalam pembelajaran secara klasikal, belajar tuntas banyak diimplementasikan dalam pembelajaran individual. Sistem belajar tuntas mencapai hasil yang optimal ketika ditunjang oleh sejumlah media, baik hardware maupun software, termasuk penggunaan komputer (internet) untuk mengefektifkan proses belajar.

5. Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction)
Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru.
Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan, dan sumber belajar apa yang harus digunakan.
2. Modul meripakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Dalam setiap modul harus : (1) memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya; (2) memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar yang telah diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.
3. Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar tapi lebih dari itu, modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing), simulasi dan berdiskusi.
4. Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat menngetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul, serta tidak menimbulkan pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari.
5. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar.

Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen, diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik; (2) lembar kerja; (3) kunci lembar kerja; (4) lembar soal; (5) lembar jawaban dan (6) kunci jawaban.
Komponen-komponen tersebut dikemas dalam format modul, sebagai beriku:
1. Pendahuluan; yang berisi deskripsi umum, seperti materi yang disajikan, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai setelah belajar, termasuk kemampuan awal yang harus dimiliki untuk mempelajari modul tersebut.
2. Tujuan Pembelajaran; berisi tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai peserta didik, setelah mempelajari modul. Dalam bagian ini dimuat pula tujuan terminal dan tujuan akhir, serta kondisi untuk mencapai tujuan.
3. Tes Awal; yang digunakan untuk menetapkan posisi peserta didik dan mengetahui kemampuan awalnya, untuk menentukan darimana ia harus memulai belajar, dan apakah perlu untuk mempelajari atau tidak modul tersebut.
4. Pengalaman Belajar; yang berisi rincian materi untuk setiap tujuan pembelajaran khusus, diikuti dengan penilaian formatif sebagai balikan bagi peserta didik tentang tujuan belajar yang dicapainya.
5. Sumber Belajar; berisi tentang sumber-sumber belajar yang dapat ditelusuri dan digunakan oleh peserta didik.
6. Tes Akhir; instrumen yang digunakan dalam tes akhir sama dengan yang digunakan pada tes awal, hanya lebih difokuskan pada tujuan terminal setiap modul

Tugas utama guru dalam pembelajaran sistem modul adalah mengorganisasikan dan mengatur proses belajar, antara lain : (1) menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif; (2) membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas; (3) melaksanakan penelitian terhadap setiap peserta didik.

6. Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi- kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu: (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi; (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis,

Proses inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah; kemampuan yang dituntut adalah : (a) kesadaran terhadap masalah; (b) melihat pentingnya masalah dan (c) merumuskan masalah.
2. Mengembangkan hipotesis; kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini adalah : (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh; (b) melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis; dan merumuskan hipotesis.
3. Menguji jawaban tentatif; kemampuan yang dituntut adalah : (a) merakit peristiwa, terdiri dari : mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan mengevaluasi data; (b) menyusun data, terdiri dari : mentranslasikan data, menginterpretasikan data dan mengkasifikasikan data.; (c) analisis data, terdiri dari : melihat hubungan, mencatat persamaan dan perbedaan, dan mengidentifikasikan trend, sekuensi, dan keteraturan.
4. Menarik kesimpulan; kemampuan yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna hubungan; dan (b) merumuskan kesimpulan
5. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi
Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok.

Sumber :
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, 2008, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/strategi-pembelajaran/
Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia
E. Mulyasa.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
_________. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
Udin S. Winataputra, dkk. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka
W. Gulo. 2005. Strategi Belajar Mengajar Jakarta :. Grasindo.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

MODEL DESAIN SISTEM PEMBELAJARAN BERORIENTASI PENCAPAIAN KOMPETENSI (DSI-PK)

Oleh: Usep Saepudin
A, LATAR BELAKANG
Pertama, lahirnya UU no. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah; Tap MPR No. IV/MPR/1999 tentang arah Kebijakan Pendidikan Di Masa Depan; UU No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintahan dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom; serta lahirnya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, berimplikasi pada kebijakan penyelenggaraan perubahan system pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistis ke desentralistik.
Kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi, seperti KBK dan KTSP, lahir seiring dengan lahirnya berbagai kebijakan tersebut. Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi, merupakan upaya untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual dan social yang bermutu tinggi sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing seperti yang digariskan dalam undang-undang dan peraturan pemerintah.
Atas dasar hal tersebut, maka kurikulum memberikan keleluasaan pada guru untuk berimprovisasi sesuai dengan karakteristik siswa dan kondisi daerah setempat. Dengan demikian setiap guru di sekolah harus mampu menjebarkan kurikulum secara kreatif dan inovatif ke dalam system instruksional sesuai dengan karakteristik siswa dan kondisi serta kebutuhan daerah.
Kedua, kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi, memiliki perbedaan yang mendasar dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Secara filosofis kurikulum ini lebih menekankan pada tujuan untuk membentuk manusia yanga memiliki kemampuan dasar (competency oriented) bukan manusia yang hanya menguasai bahan pelajaran (content oriented).
Ketiga, kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tetang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan(Depdiknas 2002).
Dari pengertian di atas, maka jelas, dalam kurikulum ini terdapat sejumlah kompetensi yang harus dicapai oleh siswa sesuai dengan tingkatannya. Ada dua makna tersirat dalam kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi. Pertama, mengharapkan adanya hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna. Kedua, memberikan peluang pada siswa sesuai dengan keberagaman yang dimiliki masing-masing.
Berdasarkan makna tersebut, maka kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa. Kedua, Implementasi pembelajaran menekankan kepada proses pengalaman dengan memperhatikan keberagaman setiap individu. Ketiga, evaluasi kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi menekankan pada evaluasi hasil belajar dan proses belajar.
Depdiknas (2002) mengemukakan karakteristik kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi secara lebih rinci sebagai berikut:
a. Menenkankan kepada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal
b. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcames) dan keberagaman.
c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnyayang memenuhi unsur edukatif.
e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi
B. Model DSI-PK
Model Desain Sistem Instruksional Berorientasi Pencapaian Kompetensi (DSI-PK) adalah gambaran proses rancangan tentang pengembangan pembelajaran baik mengenai proses maupun bahan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dalam upaya pencapaian kompetensi.
Prosedur pengembangan DSI-PK terdiri dari tiga bagian penting, Pertama analisi kebutuhan, yakni proses penjaringan informasi tentang kompetensi yang dibutuhkan anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan, meliputi dua hal pokok yakni analisis kebutuhan akademis dan kebutuhan nonakademis. Kebutuhan akademis adalah kebutuhan sesuai dengan tuntutan kurikulum, kebutuhan nonakademis adalah kebutuhan di luar kurikulum baik meliputi kebutuhan personal, kebutuhan social atau mungkin kebutuhan vokasional.
Kedua,adalah pengembangan, yakni proses mengorganisasikan materi pelajaran dan pengembangan proses pembelajaran. Materi pelajaran disusun sesuai dengan kompetensi yang diharapakan, bai menyangkut data, fakta, konsep, prisnsip, dan atau mungkin keterampilan. Sedangkan proses menunjukkan bagaimana seharusnya siswa mengalami proses pembelajaran.
Ketiga, adalah pengembangan alat evaluasi, yang memiliki fungsi utama, yaitu evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif dilakukan untuk melihat sejauh mana efektivitas program yang telahj disusun oleh guru, untuk perbaikan program pembelajaran. Proses desain instruksional memiliki kajian cukup luas, tidak hanya merencanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas akan tetapi juga merumuskan berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan pembelajaran.
Model desain system instruksional (DSI-PK) memiliki karakteistik sebagai berikut:
1. Model desain yang sederhana dengan tahapan yang jelas dan bersifat praktis
2. Secara jelas menggambarkan langkah-langkah yang ditempuh, sehingga guru tidak lagi dihadapkan pada persoalan konseptual yang rumit dan bersifat abstrak.
3. Merupakan pengembangan dari analisis kebutuhan
4. Ditekankan pada penguasaan kompetensi sebagai hasil belajar yang dapat diukur.
Seperti kita ketahui, KBK dan KTSP merupakan uapaya untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual dan social yang bermutu tinggi. Dalam rangka inilah DSI-PK dikembangkan.
Kerangka berfikir DSI-PK adalah menggunakan pendekatan system. Sistem dapat diartikan sebagai keseluruhan dari bagian-bagian yang saling berkaitan dan bekerja sama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasarkan kebutuhan yang telah ditetapkan.
Perencanaan adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan . Melalui proses perencanaan dapat ditentukan berbagai hal yang dapat mendukung ketercapaian tujuan, termasuk memprediksi setiap hambatan yang mungkin muncul selama proses berlangsung, Dengan demikian, bekerja dengan system dapat terhindar dari keberhasilan secara kebetulan, sebab melalui perencanaan dalam suatu system para pengembang dapat menggunakan dan memanfaatkan segala potensi yang ada untuk pencapaian keberhasilan,

Sumber Rujukan:
1. Abdul Gafur dkk, Desain Instruksional, Tiga Serangkai, Jakarta, 1980.
2. Ely, Donald P., Insstructional Design and Development, Syracuse University Publisher, 1978.
3. Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain system Pembelajaran, Kencana Prenada Media Group, 2008.

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

MODEL DAN DESAIN SISTEM PEMBELAJARAN

MODEL DAN DESAIN SISTEM PEMBELAJARAN

A. Secara Mikro
Model pengembangan sistem pembelajaran yang berorientasi kelas biasanya ditujukan untuk mendesain pembelajaran level mikro (kelas) yang hanya dilakukan setiap dua jam pelajaran atau lebih. Menyiapkan pembelajaran yang menyenangkan dan menantang.
1. Model PAKEM (Partisipatif, Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Pembelajaran Partisipatif, yaitu pelibatan siswa secara optimal.
Pembelajaran Aktif, yaitu melibatkan aktifitas siswa (self discovery learning).
Pembelajaran Kreatif, yaitu memotivasi dan memunculkan kreatifitas siswa.
Pembelajaran Efektif, yaitu memberi pengalaman baru agar siswa dapat mencapai tujuan. Pembelajaran Menyenangkan, yaitu siswa belajar tanpa perasaan tertekan (joyfull learning).

2. Model ASSURE, merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas.
Menurut Heinich at.al. (2005) model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu:
• Analyze Learners (analisis peserta didik), disesuaikan dengan tingkat perkembangan, gaya belajar , dan kebutuhan peserta didik.
• States Objectives (menyatakan tujuan), difokuskan pada tujuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
• Select Methods, Media, and Material (memilih metode, media, dan materi), pemilihan metode yang tepat dengan tugas pembelajaran, memilih media yang tepat dengan materi yang disampaikan .
• Utilize Media and materials (penggunaan media dan bahan), menggunakan dan mendesaian media sebagus mungkin agar pembelajaran lebih menarik dan menantang.
• Require Learner Participation (partisipasi peserta didik di kelas), partisipasi aktif peserta didik dalam kelas akan berpengaruh pada pengalaman belajar yang diperoleh selama proses pembelajaran.
• Evaluate and Revise (penilaian dan revisi), melihat seberapa efektif dan efisiennya metode dan media pembelajaran yang dipakai dalam mencapai tujuan pembelajaran.

3. Model berorientasi produk adalah model desain pembelajaran untuk menghasilkann suatu produk, biasanya media pembelajaran, misalnya video pembelajaran, multimedia pembelajaran, atau modul. Contoh modelnya adalah model Hannafin and Peck. Tahap-tahap dalam model Hannafin and Peck: tahap analisis keperluan, tahap desain, dan tahap pengembangan dan implementasi. Penilaian dan evaluasi dilaksanakan dalam setiap tahap.
Tahap-tahap model Hannafin and Peck :
• Tahap analisa kebutuhan: mengidentifikasi kebutuhan yang meliputi kebutuhan dalam mengembangkan suatu media pembelajaran; (a) tujuan dan objek media pembelajaran yang dibuat, (b) pengetahuan dan kemahiran yang diperlukan oleh kelompok sasaran, (c)peralatan dan keperluan media pembelajaran. Setelah semua keperluan diidentifikasi, Hannafin dan Peck menekankan untuk menjalankan penilaian terhadap hasil itu sebelum melanjutkan ke tahap desain.
• Tahap desain; bertujuanuntuk mengidentifikasikan dan mendokumenkan kaedah yang paling baik untuk mencapai tujuan pembuatan media tersebut (informasi dari tahap analisa kebutuhan). Salah satu dokumen yang dihasilkan dalam fase ini ialah dokumen story board yang mencakup urutan aktivitas pembelajaran berdasarkan keperluan pelajaran dan objek media pembelajaran seperti yang diperoleh dalam tahap analisis keperluan. Penilaian perlu dijalankan dalam tahap ini sebelum dilanjutkan ke tahap pengembangan dan implementasi.
• Tahap pengembangan dan implementasi; penghasilan diagram alur, pengujian, serta penilaian formatif (dilakukan sepanjang proses pengembangan media) dan penilaian sumatif (dilakukan setelah media selesai dikembangkan). Dokumen story board akan dijadikan landasan bagi pembuatan diagram alur yang dapat membantu proses pembuatan media pembelajaran, serta untuk menilai kelancaran media yang dihasilkan seperti kesinambungan link, penilaian, dan pengujian. Hasil dari proses penilaian dan pengujian ini akan digunakan dalam proses penyesuaian untuk mencapai kualitas media yang dikehendaki.
Model ini sangat menekankan proses penilaian dan evaluasi yang mengikutsertakan proses pengujian dan penilaian media pembelajaran yang melibatkan ketiga fase secara berkesinambungan.

4. Model Bella H. Bannaty, yang berorientasi pada tujuan pembelajaran. Komponen-komponen model Bella H. Bannaty menjadi acuan dalam menetapkan langkah-langkah pengembangan, sebagai berikut :
a) Merumuskan tujuan (formulate objectives).
b) Mengembangkan tes (develop test).
c) Menganalisis tugas belajar (analyzing learning task).
d) Mendesain system pembelajaran (design system).
e) Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil (implement and test output).
f) Melakukan perubahan untuk perbaikan (change to improve).

B. Secara Makro
Model beroreintasi sistem yaitu model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu sistem pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain sistem suatu pelatihan, kurikulum sekolah.
1. Model Gagne, Briggs, & Wager.
Komponennya :
• Jenjang Sistem 1
a) Analisis kebutuhan, tujuan kurikuler, dan prioritas kurikulum.
b) Analisis sumber-sumber, hambatan, dan alternative system penyampaian.
c) Penentuan cakupan dan urutan dari kurikulum dan mata ajar serta disain sistem penyampaian .
• Jenjang Mata Ajar
a) Menentukan struktur dan urutan mata ajar.
b) Analisis tujuan umum pembelajaran mata ajar
• Jenjang KBM
a) Merumuskan tujuan pembelajaran/kinerja.
b) Mempersiapkan satuan pelajaran (atau modul).
c) Mengembangkan dan memilih bahan ajar dan media pengukur kinerja peserta.
• Jenjang Sistem 2
a) Didik (menentukan asesmen).
b) Persiapan pengajar.
c) Evaluasi formatif.
d) Uji coba, perbaikan.
e) Evaluasi sumatif.
f) Penggunaan dan penyebaran

2. Model ADDIE, muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Tahap-tahap model ADDIE (Analysis-Design- Development-Implementation-Evaluation) :
a) Analysis (analisa kebutuhan, identifikasi masalah, dan identifikasi tugas pembelajaran).
b) Design (merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR; specific, measurable, applicable, and realistic, menyusun tes, memilih strategi, metode, dan media pembelajaran yang tepat).
c) Development (mewujudkan desain tadi dalam bentuk nyata, misalnya dengan mencetak modul, kemudian mengembangkan modul dengan sebaik mungkin).
d) Implementation (langkah nyata menerapkan sistem pembelajaran yang kita buat).
e) Evaluation (sudah efektifkah sistem pembelajaran yang kita kembangkan).

3. Model Dick and Carrey
Model ini termasuk ke dalam model prosedural. Langkah–langkah desain pembelajaran menurut Dick and Carey adalah:
a) Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran.
b) Melaksanakan analisi pembelajaran.
c) Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa.
d) Merumuskan tujuan performansi.
e) Mengembangkan butir–butir tes acuan patokan.
f) Mengembangkan strategi pembelajaran.
g) Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran.
h) Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif.
i) Merevisi bahan pembelajaran.
j) Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.

4. Model Kemp
Model Kemp termasuk ke dalam contoh model melingkar. Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu:
a) Menentukan tujuan dan daftar topik,menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya.
b) Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain.
c) Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar.
d) Menentukan isi materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan.
e) Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topic.
f) Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan.
g) Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran.
h) Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahankesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

5. Model DSI-PK (Desain Sistem Instruksional Berorientasi Pencapaian Kompetensi),
yaitu gambaran proses rancangan sistematis tentang pengembangan pembelajaran baik mengenai proses maupun bahan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dalam upaya pencapaian kompetensi. Karakter utama desain berorientasi pencapaian tujuan adalah :
a) Memuat sejumlah kompetensi yang harus dikuasai siswa.
b) Menekankan proses pengalaman dengan memperhatikan keragaman tiap individu.
c) Evaluasi hasil dan proses belajar.
Prosedur pengembangan DSI-PK terdiri dri tiga bagian penting. Pertama analisis kebutuhan, yakni proses penjaringan informasi tentang kompetensi yang dibutuhkan anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan.
Kedua, pengembangan, yakni proses mengorganisasikan materi pelajaran dan pengembangan proses pebelajaran.
Ketiga, pengembangan alat evaluasi, yang memiliki dua fungsi utama yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif

6. Model IDI (INTRUKSIONAL DEVELOPMENT INSTITUTE).
IDI secara umum memiliki langkah sebagai berikut:
a) Pembatasan, ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan :
• Karakteristik Siswa,
• Kondisi,
• Sumber-sumber yang relevan
b) Pengembangan, tujuan yang hendak dicapai.
c) Penilaian.

Sumber:
1. Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, Kencana Prenanada Media, Jakarta, cet. Ke-1, 2008.
./ `2. http://rismaalqomar.wordpress.com/2010/06/08/model-model-pengembangan-sistem-pembelajaran/
3. http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=1&ved=0CB8QFjAA&url=http%3A%2F%2Ffile.upi.edu%2FDirektori%2FA%2520%2520FIP%2FJUR.%2520KURIKULUM%2520DAN%2520TEK.%2520PENDIDIKAN%2F197611152001122%2520%2520RICHE%2520CYNTHIA%2520JOHAN%2FDesain%2520Program%2520Pendidikan%2520dan%2520Pelatihan%2FModelModel%2520Desain%2520Pelatihan.pdf&ei=EfxtTY3WL8_qrQfAkvWKDw&usg=AFQjCNHiGw2WnRMWYa-0zWVZTipCjDVKHA.
4. http://tpers.net/2008/05/model-cakupan-makro-created-by-efrida-pooholic/.
5. Gambar : http://www.bonastoco.com/images/news/BonastocoTraining.gif.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

LESSON STUDY

BAB I

PENDAHULUAN

 

Langkah awal yang perlu diperhatikan untuk dapat menghasilkan siswa yang berkualitas tinggi adalah bagaimana siswa dapat menyukai materi yang akan dibawakan oleh guru. Sebaik apapun pendekatan atau metode pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru dalam membawakan materi pembelajarannya akan kurang bermakna dan akan banyak menemui hambatan bila siswa tidak menyenangi materi yang disampaikan.

Dari berbagai kondisi dan potensi yang ada, upaya yang dapat dilakukan berkenaan dengan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah adalah mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat akan pendidikna yang berkelanjutan. Kecakapan seorang guru dalam mengetengahkan materi yang dapat menggugah semangat/motivasi siswa untuk mempelajarinya adalah suatu prestasi tersendiri yang menunjukkan tingkat keprofesionalan guru yang bersangkutan.

Pada kegiatan pembelajaran, guru dan siswa saling mempengaruhi dan memberi masukan. Karena itulah kegiatan pembelajaran harus menjadi aktivitas yang hidup, sarat nilai dan senantiasa memiliki tujuan yang jelas. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, para pendidik selalu ingin menciptakan dan mengembangkan perangkat model pembelajarn yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

MODEL LESSON STUDY

 

  1. A.      Pengertian Lesson Study

Lesson Study yang dalam bahasa Jepang disebut Jugyokenkyu adalah bentuk kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru/sekelompok guru yang bekerja sama dengan orang lain (dosen, guru mata pelajaran yang sama/guru satu tingkat kelas yang sama, atau guru lainya), merancang kegiatan untuk meningkatkan mutu belajar siswa dari pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru dari perencanaan pembelajaran yang dirancang bersama/sendiri, kemudian di observasi oleh teman guru yang lain dan setelah itu mereka melakukan refleksi bersama atas hasil pengamatan yang baru saja dilakukan. Refleksi bersama merupakan diskusi oleh para pengamat dan guru pengajar untuk menyempurnakan proses pembelajaran dimana titik berat pembahasan pada bagaimana siswa belajar, kapan siswa belajar, kapan siswa mulai bosan mendapatkan pengetahuan dan kapan siswa mampu menjelaskan kepada temannya dan kapan siswa mampu mengajarkan kepada seluruh kelas.

Lewis menyatakan bahwa Lesson Study merupakan siklus kegiatan kelompok guru yang bekerja bersama dalam menentukan tujuan pembelajaran, melakukan”research lesson”dan secara berkola borasi mengamati, mendiskusikan dan memperbaiki pembelajaran tersebut.

Lesson study merupakan salah satu bentuk pembinaan guru (in-service) yang dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Lesson study dilakukan diwilayah guru mengajar dengan menggunakan kelas dalam lingkungan nyata, sehingga akan membiasakan guru bekerja secara kolaboratif baik dengan guru bidang studi dan  dengan guru diluar bidang studi,  bahkan dengan masyarakat. Lesson Study merupakan kolaboratif antara guru dalam menyusun rencana pembelajaran beserta research lessonnya, pelaksanaan KBM dikelas yang disertai observasi dan refleksi. Dengan lesson study para guru dapat leluasa meningkatkan kinerja dan keprofesionalannya yang akhirnya dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan meghasilkan siswa yang berkualitas tinggi.[1]

 

  1. B.       Tujuan Lesson Study

Bill Cerbin & Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk:

1)          Memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar;

2)          Memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran;

3)          Meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif;

4)          Membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.[2]

 

  1. C.      Manfaat Lesson Study

Menurut Lesson Study Project (LSP)  manfaat  yang bisa diambil dari Lesson Study, diantaranya:

1)          Guru dapat mendokumentasikan kemajuan kinerjanya,

2)          Guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan

3)          Guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari: (1) perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); refleksi (check); dan tindak lanjut (act). [3]

Sedangkan menurut Caterine Lewis mengemukakan bahwa manfaat Lesson Study adalah :

1)          Memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa,

2)          Memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan,

3)          Mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study),

4)          Belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa,

5)          Mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran,

6)          Membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan

7)           Mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas.[4]

 

  1. D.      Hakikat Lesson Study

Konsep dan praktik Lesson Study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah kenkyuu jugyo. Adalah Makoto Yoshida, orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan kenkyuu jugyo di Jepang. Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan Lesson Study tampaknya mulai diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993. Sementara di Indonesia pun saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada awalnya, Lesson Study dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan pendidikan tinggi.

Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data. Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial. Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.

 

 

 

  1. E.       Ciri-Ciri Lesson Study

Ciri-ciri dari Lesson Study, yaitu:

1)          Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.

2)           Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.

3)          Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.

4)          Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.

 

  1. F.       Tipe-tipe Penyelenggaraan Lesson Study

Terkait dengan penyelenggaraan Lesson Study, Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan Lesson Study, yaitu

1)           Lesson Study berbasis sekolah.

Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan.

2)        Lesson Study berbasis MGMP

Lesson Study berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi.[5]

Dalam hal keanggotaan kelompok, Lesson Study Reseach Group dari Columbia University menyarankan cukup 3-6 orang saja, yang terdiri unsur guru dan kepala sekolah, dan pihak lain yang berkepentingan. Kepala sekolah perlu dilibatkan terutama karena perannya sebagai decision maker di sekolah. Dengan keterlibatannya dalam Lesson Study, diharapkan kepala sekolah dapat mengambil keputusan yang penting dan tepat bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya, khususnya pada mata pelajaran yang dikaji melalui Lesson Study. Selain itu, dapat pula mengundang pihak lain yang dianggap kompeten dan memiliki kepedulian terhadap pembelajaran siswa, seperti pengawas sekolah atau ahli dari perguruan tinggi.

 

  1. G.      Tahapan Lesson Study

Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam Lesson Study ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study, yaitu : (1) Perencanaan (Plan); (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (See). Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:

  1. Form a Team: membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study.
  2. Develop Student Learning Goals: anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari Lesson Study.
  3. Plan the Research Lesson: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons.
  4. Gather Evidence of Student Learning: salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa.
  5. Analyze Evidence of Learning: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa
  6. Repeat the Process: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada.

Sedangkan menurut Slamet Mulyana, tahapan dalam penyelengggaraan Lesson Study adalah :

1).     Tahapan Perencanaan (Plan)

Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.

2).   Tahapan Pelaksanaan (Do)

Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas Lesson Study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer).

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:

a)    Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.

b)    Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study.

c)    Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.

d)   Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.

e)    Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru.

f)     Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.

g)    Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP.

3.    Tahapan Refleksi (Check)

Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.

Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-sarannya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.

4.    Tahapan Tindak Lanjut (Act)

Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial.

Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik.

Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta Lesson Study, tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam Lesson Study, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Lesson Study merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.
  2. Tujuan Lesson Study adalah : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
  3. Ciri-ciri dari Lesson Study yaitu adanya: (a) tujuan bersama untuk jangka panjang; (b) materi pelajaran yang penting; (c) studi tentang siswa secara cermat; dan (d) observasi pembelajaran secara langsung
  4. Lesson study memberikan banyak manfaat bagi para guru, antara lain: (a) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (b) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (c) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study
  5. Penyelenggaraan Lesson Study dapat dilakukan dalam dua tipe: (a) Lesson Study berbasis sekolah; dan (a) Lesson Study berbasis MGMP.
  6. Lesson Study dilaksanakan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, meliputi : (a) tahapan perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); (c) refleksi (check); dan (d) tindak lanjut (act).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Rusman, Model-model Pembelajaran, Rajawali Pers, Bandung, 2011.

Bill Cerbin & Bryan Kopp. A Brief Introduction to College Lesson Study. Lesson Study Project. online: http ://www.uwlax.edu/sotl/lsp/index2.htm

Catherine Lewis (2004) Does Lesson Study Have a Future in the United States?. Online: http://www.sowi-online.de/journal/2004-1/lesson_lewis.htm

Lesson Study Research Group online: http://www.tc.edu/lessonstudy/whatislessonstudy.html

Slamet Mulyana. 2007. Lesson Study (Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat

Wikipedia.2007. Lesson Study. Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/22/lesson-study-untuk-meningkatkan-pembelajaran/

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar